Seruang
Rindu Bersama Gunung Merbabu
March 15th, 2015
Di kalangan para remaja mendaki
menjadi salah satu tujuan favorite untuk berlibur diri. Apalagi gunung yang
satu ini, Merbabu Mountain. Memiliki ketinggian 3142 mdpl. Bagi Kami cukup
tinggi, karena Kami termasuk pemula.
Tepat hari jum’at, 15 Mei 2015 saya (sebut saja Azizah), bersama teman-teman Ikamaru yaitu Bebeh Ilmo, Mbak Fat, ditambah satu lagi seorang mbah-mbah yang selalu mengawal perjalanan Kami. Iya, memang itu nama aslinya, lebih familiarnya dengan sebutan “Mbah Hend”. Bukan karena usianya yang tua, melainkan dialah seorang remaja yang seangkatan dengan kami dan kebetulan bertanggung jawab. :D
Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB, Kami bertiga
bergegas menuju tempat pertemuan “Ngablak City”. Disitulah Kami berkumpul. Alkisah
menceritakan sebuah cerita yang jauh dari apa yang didaki. Cerita yang mencoba
menguak sisi lain dari Merbabu. Sisi alam, humaniora, kesosialan, kekeluargaan,
beserta tingkah lakunya yang terekam dalam otak panca indra.
Gelisah mulai bergemuruh di dada,
ketika saya sendiri berada di Grabag. Sedang, dua temanku (Mbak Fat & Bebeh
Ilmo) di Ngablak. Jauh sekali kami berpisah. Mengetahui hal seperti ini kami
hanya ba bi bu ba tak menentu hingga detik jarum jam berhenti tepat di 22.22 pm
jemputan baru menghampiriku. Bayangkan saja, seorang gadis sendirian di
jejalanan malam yang mulai menyepi, dimana sang hati tak terarah gundah
menggema. Nggak lucu kan kalau ada kabar “Seorang Gadis Tersesat Sebelum
Mendaki Gunung”. Aku sudah mulai putus asa, menyesali atas perbuatanku sendiri.
“Oh Ibu, ridhoi anakmu ini ndaki”. Untungnya, ada seikat keluarga kecil yang
menolongku waktu itu. Menjamu, menghiburku bak anak kandungnya sendiri.
(@Penjual Nasi Kucingan)
Ini baru awal perjalanan Kami yang tak karuan dengan meliku bejubel permasalahan yang akibat ulahku sendiri. Yaitu berpisah dari mereka. Maafkan daku, teman L
@Ngablak City
Singkat cerita, kami berempat
sudah tiba di tempat perjanjian sebelumnya. Dengan perjuangan yang penuh keluh
kesah menghabiskan 1 jam lamanya untuk menempuh Grabag- Ngablak. Ada enam orang
lagi disana, rombongan dari UIN SUKA. Total 11 orang kami menelusuri jalan,
Selo adalah alat menuju puncak. Jalan yang mencekam di kesunyiam malam kami
tempuh bersama. Tepat 23.45 pm, kami siap meluncur. Berbagai bebatuan menghadang
jalan kami. Jalan ekstrim, tanjakan tajam terus kami perjuangkan dengan seluruh
kekuatan yang kami punya.
Dua jam sudah kami lalui
sampai basecamp Merbabu (01.45 am.)
@Basecamp
Dingin mulai menjalar keseluruh tubuh. Kami
berhenti sejenak tuk merehatkan badan. Tak kalah juga secangkir teh, sepiring
nasi menemani malam kami. Yang ada krik...krik... kesunyian hati. Saling diam,
saksi bisu mengbungkam mulut masing-masing. Bingung. Terbesit dalam benakku “Ya
Robb, untuk malam ini tolonglah satukan kami, kembalikan Kami dengan
keharmonisan dalam ranah kekeluargaan “,pintaku dalam hati.
Allah mendengar do’aku. Dengan kemantapan hati,
keoptimisan diri, Kami mulai melanjutkan perjalanan menuju puncak Merbabu.
Tentunya setelah memenuhi administrasi sebesar Rp 10.000,00, Kami membentuk satu
lingkaran kecil. Berdo’a dimulai. Bismillahirrohmanirrohim.....
Start (03.00 am) “Merbabu....tunggu kami di
atas puncak sana”.
*Shubuh,04.10 am, kami sampai di pos I
Kami beristirahat sebentar, beralas matras
sebagai kasur tidur Kami. Kak Kholil, salah satu rombongan dari Jogja menyambut
pagi Kami dengan secangkir kopi. Menghangatkan tubuh. Masih saja kopi yang
sepanas itu tak terasa. Dingin telah masuk ketulang, aliran darah pun rasanya
telah bercampur menyatu.
Terus melaju menelusuri jalan. Rasa
kekeluargaan itu mulai muncul satu persatu. Kak Kholil yang selalu kocak
menghibur kami, kesastraan Kak Fahri yang tak kalah meramaikan suasana,
kemanisan gula jawa yang dibawakan oleh Kak Siti nan Kak Rika tuk mengisi perut
yang kosong, air putih yang mengobati dahaga Kami, dibawakan oleh teman
tercinta (@Mbak Fat), tak lupa ditemani oleh permen “MintZ” di kantong Bebeh
Ilmo, Mbah Hend, Kak Bakpau, ,Kak Ilyas, tak lupa Kak Rofikki yang mengawal selalu
selama our trip. Ciri kekhasan itu bikin hati ini mulai memutar kenangan yang
telah terukir dua minggu yang lalu.
Ini pose kakak-kakak saat masak.
(kebalik nggak nih, masag cowok yang masak?
Haha tutup muka ah J )
Mendaki. Ia mengajarkan kami untuk berbagi rasa
satu sama lain. Satu mangkuk mie untuk bersama, secangkir kopi pun bersama.
Walau hanya beberapa suap mie kami tetap berjuang.
Setelah mengisi perut di pos II, perjalanan
berlanjut menuju treck yang sedikit menanjak dan tajam ke pos selanjutnya. Rumput
ilalang turut menyemangati. Pepohonan bersorak riang menggelegar. Cepat atau
lambat Kami akan sampai ke puncak atas kehendak-Nya. “Allahumma sholli ‘ala
sayyidina Muhammad”. Sholawat Nabi mengiringi permulaan kaki melangkah. Tit...Sinar
matahari mulai menyengat tepat di atas kepala. 09.20 am di mulai dari tempat
peristirahatan tadi. Terus melangkah pasti. Meliuk-liuk mengikuti lenggok jalan
perbukitan. Menikmati panorama sejuk keindahan alam. Dua gunung yang melegenda
di Jawa Tengah. Berdampingan tetapi tetap menonjolkan ciri khas masing-masing.
Merbabu dan Merapi. Merbabu dengan padang sabana, hijau rerumputan, ilalang,
hutan, tak lupa dengan ladang edelweisnya yang dicari-cari para remaja entah
apa istimewanya saya sendiri kurang tau. Heee.
Lalu, Merapi ??? Berhubung saya sendiri belum
pernah kesana, so...ane tak bisa menorehkan rupanya. J
Ini nih kaki-kaki para pendaki. Chiss....kaki
aja bisa narsis, apalagi orangnya.hahaha.... :D
@Sabana I (11.20 am)
Matahari mulai tersenyum tepat di atas kepala.
Sudah terlalu siang rupanya. Sabana I.
“Subhanallah...indah sekali, ini baru ngerasa
muncak beneran”. Salah satu temanku mengucap ketakjubannya,Bebeh Ilmo temanku
yang paling cerewet dan suka jadi laki-laki jadi-jadian. Hahaha. Peace mb bro
:D
@Suasana Sabana I
Deretan tenda berawarna-warni, menghias hari
dibawah terik sang mentari.
“kakak-kakak, kita istirahat saja dulu dibawah
pohon andelwis, ndiriin tendanya nanti sore saja”, arahan kak leadership yang
bijak
Sembari duduk di bawah pohon andelwis, untuk
mengusir keletihan, tak lupa kami mendokumentasikan alias berfoto ria.
“Lumayan, buat kenangan anak cucu”hhhe
Kakak, senyum dikit donk....nah,gitu baru
cantik J
Keasyikan kami membuat lupa akan waktu. Nan
mentari semakin menampakkan dirinya. Panas menyangat ujung kepala tepat.
Grrhhhh.....geser kanan geser kiri, sama saja. Panas. Kucoba memejamkan mata.
Perlahan bleshhh. Tidur.
Pukul
14.50.
Setelah mendirikan tenda, Kami berencana
melanjutkan perjalanan menuju puncak. Namun, cukup sudah rasanya. Sore itu
berkabut. Putih, bahkan tak nampak jalan setapak nan gunung yang menjulang
tinggi. Alhasil, pendakian kami tunda hingga esok harinya.
Pukul 03.30
Udara semakin dingin. Bahkan kami semua sempat
menggigil. Mau tak mau pendakian harus dilanjut sepagi ini juga. Dengan bekal
niat yang bulat, keoptimisan, tak lupa kami berdo’a terlebih dahulu kepada
Allah yang Maha Kuasa.
Perjalanan kali ini beda dengan sebelumnya. Untuk
kali ini, akan lebih terjal, curam, berkelok, licin, tinggi, dan membutuhkan
fisik yang kuat tentunya.
Langkah kami mulai melemah dengan nafas yang
semakin berat tetap terasa bersemangat karena kebersamaan saling mendukung,
bercanda, dan tawa.
Sempat mengharukan, ketika semua perhatian
tertuju pada Mbak Fat dan saya sendiri yang tiba-tiba sakit. Teman saya
menggigil, lagi-lagi disusul olehku yang kedinginan dan batuk-batuk efek berhenti
cukup lama. Ku coba tak menghiraukan lagi dengan rasa mual dan batukku saat
itu.
“Strong...strong..strong, you can do it”.
Ucapku waktu itu, untuk memotivasi diri sendiri.
Ribuan kaki telah kami injakkan di tanah
merbabu. Tak terasa sekitar 4 jam kami sampai puncak Merbabu.
“Alangkah indah ciptaan-Mu ya Robb”. Menakjubkan.
Rumah, gedung, masjid, kota-kota, nampak kecil dari atas sana. Itu tandanya,
semua isi bumi ini tak ada apa-apanya dibanding kekuasaan-Mu.
Indahnya alam karena adanya Engkau, Sang Maha
Segalanya.
Menurut
saya pribadi, muncak adalah tak sekedar ndaki, lalu foto-foto di atas awan.
Bukan. Tapi, alangkah indahnya jika kita berniat untuk bertadabbur, menadabburi
ciptaan-Nya. Tak lain tak bukan adalah mencintai alam. Perlu di ingat, bahwa
“cinta alam dan kasih sayang sesama manusia” adalah bentuk pasal Dasa Dharma yang mana kita semua harus
mengamalkannya. Yang terpenting niat, optimis, jangan lupa do’a, dan
kebersamaan untuk saling menjaga.
Itulah cerita singkat tentang kami. “Seruang
Rindu Bersama Gunung Merbabu”. Yang mana, ini mempunyai arti,kami semua
telah mengagumi ciptaan-Mu, merindukan alam-Mu. Thank’s to Allah J
“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi senantiasa bertasbih kepada Allah; milik-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya
pula segala puji; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. At-Taghobun:
1)
Sekian. Semoga kita semua selalu diberkahi
dalam lindungan-Nya. Amin J

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKeseluruhan uda bagus dek. Mungkin kata-katanya bisa dilangsingin lagi. Intinya, Simple tapi maknanya dapet. Trus diksi-nya juga perlu sedikit pembaharuan. Untuk nambah diksi, banyakin baca buku. Tetep semangat
BalasHapusiya kakak, trimakasih. semoga bermanfaat :)
Hapusarek salatiga pinter jg nulis, blognya jg lumayan.. :) (y)
BalasHapusvisit my blog guys..
abanghendri25@blogspot.com
makasih kakak hend, do'ane mawon nggeh :)
Hapus