My Videos

Selasa, 16 Juni 2015

AIR MATA SENJA
Menjelang sore hari selalu kulihat angkasa yang tersungging manis ke seluruh penjuru dunia. Tak ingin ku lewati panorama langit biru itu. Menyejukkan qolbu kala hati gundah. Hati yang jauh dari  kasih family.
Wonosobo City. Merupakan salah satu kota yang asri nan sejuk menentramkan para penduduknya.
Sebelumnya tak pernah terpikir olehku, kalau saya akan menginjakkan kaki di kota ini. Memang, dahulu kala waktu saya kecil bermimpi hidup di suatu kota. Karena saya sendiri berasal dari desa yang dikatakan pelosok. Ini bukan alasan untuk tidak mensyukuri atas kelahiranku sebagai anak desa. Tak sama sekali.  Melainkan sekedar keinginan untuk mencicipi manisnya hidup di kota.
Seiring berjalannya waktu, mimpi itu menjadi realita. Wonosobo City, kotaku sekarang. Inilah secuil  kisahku.
Saya, sebut saja Alifia Wahida Ziora. Mempunyai dua sahabat yang selalu setia menemaniku di kala keluh kesah dan bahagia. Saat itu kami duduk di bangku kelas 3 SMA. Sari dan Sifa, namanya. Mereka selalu menolongku ketika aku sedang  keadaan susah. Bahkan tak dimintai bantuan pun mereka selalu stand by setiap saat untuk menolongku. Tak bisa ku uraikan satu persatu kebaikannya. Ah, bahagianya memiliki sahabat seperti mereka.
“Alif, kamu setelah lulus dari SMA ini mau lanjut kemana?” tanya Sifa yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Emm....aku....” (sembari tersenyum memandangi wajah sahabatnya).
“ Eh, ni orang kumat gilanya deh” 
“ Hei, Sifa...kamu mau kemana?”
Melihat Alif yang hanya senyum-senyum tak jelas, ia langsung pergi tanpa pamit.
Alif tahu apa yang harus ia lakukan ketika sahabatnya yang satu ini lagi badmood, ia harus mengejarnya sampai pada akhirnya bisa tertawa bareng-bareng lagi.

@Taman Kelas
“Sari...masag tadi pas aku tanya sama Alif tentang planning kedepannya nggak di jawab. Nyebelin tau nggak” curhatnya ke Sari sambil memanyunkan bibirnya.
“ Kamunya aja yang terlalu sensi. Dia itu pengen ngajak kamu bercanda, biar nggak sepanteng  terus”
            Mereka bertiga memang sahabat, tapi tiap hari selalu saja tak bisa melewatkan hari-harinya tanpa cek-cok. Dari masalah yang kecil seperti tadi sampai ke ujung pertikaian yang hanya bertahan 1 jam saja. Unik sekali.
“Kok kalian disini?” tanya Alif dengan nafas yang terengah-engah setelah berlarian mengejar Sifa.
“ Sini Alif duduk sampingku, aku mau tanya sesuatu sama kamu” pinta Sari dengan sifat kelembutannya.
Tak kaget jika Sari berperilaku manis kepada sahabat-sahabatnya. Ia memang tipe orang yang bijak,manis ketika bertutur, tak banyak omong, tapi penyayang. Beda dengan Sifa yang penuh kekanak-kanakan dan pengen menang sendiri. Lalu Alif? Ia humoris, penyabar, kocak, ceria, suka bercanda, dan penuh kerja keras. Walaupun ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda, itu tak memisahkan mereka untuk menjadi sahabat yang setia. Dalam dunia remaja sekarang dikenal dengan sebutan “Best Friends Forever”.
“Jadi kalian satu universitas? Terus aku?” timpal Alif seketika mendengar penuturan mereka berdua.
.......#.......
Dua bulan kemudian
UIN Maliki Malang. Kini nama itu merupakan tempat belajar Sifa dan Sari. Satu universitas bahkan satu kamar di pondoknya.
“Sif, tiba-tiba aku kok kangen sama Alif ya”, ucap Sari dengan mata berkaca-kaca.
Terakhir kali bertemu, mereka bertiga memutuskan untuk pisah. Duo S, yaitu Sari dan Sifa masih tetap bersama. Sedang, Alif punya pilihan lain, ia lebih memilih yang lebih dekat. Selain orangtuanya tak mengizinkan, juga tak mampu untuk membiayai anak pertamanya.
“Ah, dia aja nggak pernah ngubungin kita kok, udah lah lupakan aja, nggak penting tauk”.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu Sif, kita ini sahabat. Ingat nggak, dimanapun, kapanpun kita berada, kita harus saling tetap pegang komitmen kita untuk saling percaya dan tak boleh ada saling benci”.
Sari  menasehati sahabatnya, namun hanya angin berlalu. Sepertinya ia (Sifa) sudah mulai dingin dan tak peduli lagi dengan Alif. Karena  jarak yang lumayan jauh memisahkan keduanya, mereka jarang komunikasi dan hubungan mereka jadi rentan.

@Wonosobo City
“Alif, kamu dipanggil Ustadz Dzikri untuk segera ke ruangannya”, panggil salah satu temannya yang bernama Ridho.
“Iya Dho, thank’s”.
            Tak seperti biasanya, ia merasa deg-deg an. Bahkan tubuhnya gemetaran.
“Kenapa firasatku nggak enak ya” ucap Alif dalam hati.
Grek, pintu ruangan Ustadz Dzikri terbuka.
“Assalamu’aikum ustadz....”
“Wa’alaikumsalam, silahkan duduk nak”
            Benar-benar menakjubkan akan kuasa-Mu ya robb. Kala itu aku tak bisa berkata apa-apa. Dibalik gemetaranku yang begitu dahsyat tadi Engkau menganugerahiku sebuah kejutan berupa beasiswa ini.
Ya, Alif mendapatkan beasiswa, tepatnya beasiswa mahasiswi teladan. Terbukti, ia memang cerdas, selain itu selalu tunduk pada aturan ,banyak memenangkan lomba di mana-mana, terutama bisa menggaet banyak medali di kampusnya. Wajar kalau dia menjadi kebanggan kampus (red_UNSIQ Wonosobo)
.......#.......
Hari demi hari ia lalui dengan kesibukan yang luar biasa. Mulai dari pergi ke kampus, ikut berbagai UKM, kompetisi, MTQ, dan memenuhi undangan-undangan untuk qiro’ah. Sehingga tiga minggu ini ia lupa kasih kabar pada orangtuanya. Apalagi sahabatnya, sudah genap enam bulan ia tak komunikasi dengan mereka. Ada rasa yang ganjal ketika ia sedang makan di Ma’had.
Tiba-tiba hpnya bergetar agak lama. Pertanda ada new call masuk.
“ nak, bapak ....ba..pak..” suara seberang.
“Bapak kenapa bu?” sahutku dengan rasa penasaran nan khawatir.
“Bapak kecelakaan, beliau mengeluarkan banyak darah” sahut ibu dengan agak ragu.
Prang...gelas yang kupegang jatuh dan pecah. Aku pun jatuh pingsan.
.......#.......
Di kediaman Bapak Suhari, rumah Alif.
Lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an terdengar begitu riuh dari kejauhan. Alif tak bisa menahan lagi untuk menangis kesekian kalinya. Air matanya tak bisa bisa terbendung. Sesampai di depan pintu glekk....ia pingsan.
“Alif....”sontak orang-orang yang ada disana kaget dan segera membopongnya masuk ke dalam kamar.
Yaasin..walqur’anil hakiim..
Mendengar lantunan ayat-ayat suci al-qur’an Alif terbangun dari pingsannya.
“Bapak...jangan tinggalin Alif...”
“Nduk, kamu nggak papa?”
“Bapak mana bu?”
“Ikhlaskan saja nduk, biar beliau tenang di alam sana”
Keduanya saling berpelukan erat, Alif pun terisak di pelukan ibunya.
Kemudian pemakaman dimulai. Tinggal keheningan dan isak tangis.
Tujuh hari kemudian.
Hari demi hari Alif hanya berdiam diri di kamar. Makan tak selera, mau kembali ke kampus pun masih teringat wajah ayahnya. Ia terpuruk. Tak menyangka bahwa bapaknya begitu cepat meninggalkannya. Sosok tulang punggung keluarga yang selama ini menjadi tumpuan bagi keluarga. Sosok laki-laki yang kukagumi selama ini. Begitu bijak, baik, tak pilih kasih, selalu melindungi kami, membimbing ke jalan-Mu, dan tak lupa mengingatkan jika kami salah.
“Bapak, Alif kangen....”
“Mbak, sebaiknya mbak kembali lagi ke Wonosobo”
“iya nduk, adikmu benar. Sebaiknya kamu lanjutkan sekolahmu, kasian bapak jika melihatmu terpuruk seperti ini” nasihat ibu seraya memelukku.
UNSIQ again.
Semilir angin sepoi-sepoi menyapu wajahku
Asa keputusasaanku kutumpahkan beradu
Di kota ini
Lembaran-lembaran turut menantiku
Menumpuk bak gunung yang menjulang ke langit
            Tiba-tiba....
“Alif, aku turut berduka cita atas kepergian bapakmu, maaf kemaren nggak bisa takziyah”
“iya lif, yang sabar ya...”
“Sehat lif?. Udah nggak usah di pikirin, yang penting di do’ain”
Alif hanya bisa menimpaku dengan senyuman. Ia tak kuasa berkata apa-apa.

“Alif....,MasyaAllah...”
Bersambung........



         


          

About the Author

Wasim Ahmad

Blogger

I am the founder of this blog if you like my tuts , follow me

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

The Beautiful Gift

Cari Blog Ini

Contact us