ENAK TAK PERLU WAH
Tak hayal memang jika kita galau karena jauh dari peradaban orang tua. Apalagi di hari yang sungguh luar biasa ini. Adalah Idul Qurban, hari raya umat islam selain idul fitri. Hari yang penuh takbir dan keagungan hanya ada pada-Nya. Kembali lagi ke pembahasan inti. “Enak Tak Perlu Wah?”. Iya, pasalnya enak itu selalu terbayang-bayang hal-hal yang menyenangkan, istimewa, menarik, dan serba spesial baik dinilai dari indera pendengaran maupun penglihatan.
Lalu, kalau yang ini gimana guys? Apa masih dibilang enak?
Jawabanyya enak sekali, karena ada hal penting dibanding menikmati menu yang tak lain tak bukan semangkuk nasi dan satu keping sambel terasi. Bukankah enak itu ketika merasa sudah puas? Atau bersyukur dalam keadaan apapun?. Awalnya memang kami sempat mengeluh. Di hari raya idul adha kami pun tak bisa berkumpul dengan keluarga, keduanya uang kami habis, dan mau nggak mau kami pun sarapan ala kadarnya. Mengingat khutbah yang disampaikan tadi pagi, tepatnya di Masjid Nuruz Zahro, Salatiga, “pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam itu sendiri adalah Keteguhan hatinya, kesabaran, dan rela berkorban demi perintah allah SWT”. Nah, mengingat hal itu, kami pun urungkan niat untuk “gresah” (mengeluh). Lantas tersenyum dan.... puji syukur Bagi-mu
“Karena semua nimat itu berasal dari Allah Ta’ala, tentunya enak sekali”
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar