AIR MATA SENJA
Menjelang
sore hari selalu kulihat angkasa yang tersungging manis ke seluruh penjuru
dunia. Tak ingin ku lewati panorama langit biru itu. Menyejukkan qolbu kala
hati gundah. Hati yang jauh dari kasih
family.
Wonosobo
City. Merupakan salah satu kota yang asri nan sejuk menentramkan para
penduduknya.
Sebelumnya
tak pernah terpikir olehku, kalau saya akan menginjakkan kaki di kota ini.
Memang, dahulu kala waktu saya kecil bermimpi hidup di suatu kota. Karena saya
sendiri berasal dari desa yang dikatakan pelosok. Ini bukan alasan untuk tidak
mensyukuri atas kelahiranku sebagai anak desa. Tak sama sekali. Melainkan sekedar keinginan untuk mencicipi
manisnya hidup di kota.
Seiring
berjalannya waktu, mimpi itu menjadi realita. Wonosobo City, kotaku sekarang.
Inilah secuil kisahku.
Saya, sebut saja Alifia Wahida Ziora. Mempunyai dua sahabat yang
selalu setia menemaniku di kala keluh kesah dan bahagia. Saat itu kami duduk di
bangku kelas 3 SMA. Sari dan Sifa, namanya. Mereka selalu menolongku ketika aku
sedang keadaan susah. Bahkan tak
dimintai bantuan pun mereka selalu stand by setiap saat untuk menolongku. Tak
bisa ku uraikan satu persatu kebaikannya. Ah, bahagianya memiliki sahabat
seperti mereka.
“Alif,
kamu setelah lulus dari SMA ini mau lanjut kemana?” tanya Sifa yang tiba-tiba
membuyarkan lamunanku.
“Emm....aku....”
(sembari tersenyum memandangi wajah sahabatnya).
“ Eh,
ni orang kumat gilanya deh”
“ Hei,
Sifa...kamu mau kemana?”
Melihat
Alif yang hanya senyum-senyum tak jelas, ia langsung pergi tanpa pamit.
Alif
tahu apa yang harus ia lakukan ketika sahabatnya yang satu ini lagi badmood, ia
harus mengejarnya sampai pada akhirnya bisa tertawa bareng-bareng lagi.
@Taman
Kelas
“Sari...masag
tadi pas aku tanya sama Alif tentang planning kedepannya nggak di jawab.
Nyebelin tau nggak” curhatnya ke Sari sambil memanyunkan bibirnya.
“ Kamunya
aja yang terlalu sensi. Dia itu pengen ngajak kamu bercanda, biar nggak
sepanteng terus”
Mereka bertiga memang sahabat, tapi
tiap hari selalu saja tak bisa melewatkan hari-harinya tanpa cek-cok. Dari
masalah yang kecil seperti tadi sampai ke ujung pertikaian yang hanya bertahan
1 jam saja. Unik sekali.
“Kok
kalian disini?” tanya Alif dengan nafas yang terengah-engah setelah berlarian
mengejar Sifa.
“ Sini
Alif duduk sampingku, aku mau tanya sesuatu sama kamu” pinta Sari dengan sifat
kelembutannya.
Tak
kaget jika Sari berperilaku manis kepada sahabat-sahabatnya. Ia memang tipe
orang yang bijak,manis ketika bertutur, tak banyak omong, tapi penyayang. Beda
dengan Sifa yang penuh kekanak-kanakan dan pengen menang sendiri. Lalu Alif? Ia
humoris, penyabar, kocak, ceria, suka bercanda, dan penuh kerja keras. Walaupun
ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda, itu tak memisahkan mereka untuk
menjadi sahabat yang setia. Dalam dunia remaja sekarang dikenal dengan sebutan “Best
Friends Forever”.
“Jadi
kalian satu universitas? Terus aku?” timpal Alif seketika mendengar penuturan
mereka berdua.
.......#.......
Dua bulan kemudian
UIN Maliki Malang. Kini nama itu
merupakan tempat belajar Sifa dan Sari. Satu universitas bahkan satu kamar di
pondoknya.
“Sif, tiba-tiba aku kok kangen sama
Alif ya”, ucap Sari dengan mata berkaca-kaca.
Terakhir kali bertemu, mereka
bertiga memutuskan untuk pisah. Duo S, yaitu Sari dan Sifa masih tetap bersama.
Sedang, Alif punya pilihan lain, ia lebih memilih yang lebih dekat. Selain orangtuanya
tak mengizinkan, juga tak mampu untuk membiayai anak pertamanya.
“Ah, dia aja nggak pernah ngubungin
kita kok, udah lah lupakan aja, nggak penting tauk”.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu Sif,
kita ini sahabat. Ingat nggak, dimanapun, kapanpun kita berada, kita harus
saling tetap pegang komitmen kita untuk saling percaya dan tak boleh ada saling
benci”.
Sari
menasehati sahabatnya, namun hanya angin berlalu. Sepertinya ia (Sifa)
sudah mulai dingin dan tak peduli lagi dengan Alif. Karena jarak yang lumayan jauh memisahkan keduanya,
mereka jarang komunikasi dan hubungan mereka jadi rentan.
@Wonosobo City
“Alif, kamu dipanggil Ustadz Dzikri
untuk segera ke ruangannya”, panggil salah satu temannya yang bernama Ridho.
“Iya Dho, thank’s”.
Tak
seperti biasanya, ia merasa deg-deg an. Bahkan tubuhnya gemetaran.
“Kenapa firasatku nggak enak ya”
ucap Alif dalam hati.
Grek, pintu ruangan Ustadz Dzikri
terbuka.
“Assalamu’aikum ustadz....”
“Wa’alaikumsalam, silahkan duduk
nak”
Benar-benar
menakjubkan akan kuasa-Mu ya robb. Kala itu aku tak bisa berkata apa-apa.
Dibalik gemetaranku yang begitu dahsyat tadi Engkau menganugerahiku sebuah
kejutan berupa beasiswa ini.
Ya, Alif mendapatkan beasiswa,
tepatnya beasiswa mahasiswi teladan. Terbukti, ia memang cerdas, selain itu
selalu tunduk pada aturan ,banyak memenangkan lomba di mana-mana, terutama bisa
menggaet banyak medali di kampusnya. Wajar kalau dia menjadi kebanggan kampus
(red_UNSIQ Wonosobo)
.......#.......
Hari
demi hari ia lalui dengan kesibukan yang luar biasa. Mulai dari pergi ke
kampus, ikut berbagai UKM, kompetisi, MTQ, dan memenuhi undangan-undangan untuk
qiro’ah. Sehingga tiga minggu ini ia lupa kasih kabar pada orangtuanya. Apalagi
sahabatnya, sudah genap enam bulan ia tak komunikasi dengan mereka. Ada rasa
yang ganjal ketika ia sedang makan di Ma’had.
Tiba-tiba hpnya bergetar agak lama.
Pertanda ada new call masuk.
“ nak, bapak ....ba..pak..” suara
seberang.
“Bapak kenapa bu?” sahutku dengan
rasa penasaran nan khawatir.
“Bapak kecelakaan, beliau
mengeluarkan banyak darah” sahut ibu dengan agak ragu.
Prang...gelas yang kupegang jatuh
dan pecah. Aku pun jatuh pingsan.
.......#.......
Di kediaman Bapak Suhari, rumah
Alif.
Lantunan
ayat-ayat suci Al-qur’an terdengar begitu riuh dari kejauhan. Alif tak bisa
menahan lagi untuk menangis kesekian kalinya. Air matanya tak bisa bisa
terbendung. Sesampai di depan pintu glekk....ia pingsan.
“Alif....”sontak orang-orang yang
ada disana kaget dan segera membopongnya masuk ke dalam kamar.
Yaasin..walqur’anil hakiim..
Mendengar lantunan ayat-ayat suci
al-qur’an Alif terbangun dari pingsannya.
“Bapak...jangan tinggalin Alif...”
“Nduk, kamu nggak papa?”
“Bapak mana bu?”
“Ikhlaskan saja nduk, biar beliau
tenang di alam sana”
Keduanya saling berpelukan erat,
Alif pun terisak di pelukan ibunya.
Kemudian
pemakaman dimulai. Tinggal keheningan dan isak tangis.
Tujuh hari kemudian.
Hari demi hari Alif hanya berdiam
diri di kamar. Makan tak selera, mau kembali ke kampus pun masih teringat wajah
ayahnya. Ia terpuruk. Tak menyangka bahwa bapaknya begitu cepat
meninggalkannya. Sosok tulang punggung keluarga yang selama ini menjadi tumpuan
bagi keluarga. Sosok laki-laki yang kukagumi selama ini. Begitu bijak, baik,
tak pilih kasih, selalu melindungi kami, membimbing ke jalan-Mu, dan tak lupa
mengingatkan jika kami salah.
“Bapak, Alif kangen....”
“Mbak, sebaiknya mbak kembali lagi
ke Wonosobo”
“iya nduk, adikmu benar. Sebaiknya
kamu lanjutkan sekolahmu, kasian bapak jika melihatmu terpuruk seperti ini”
nasihat ibu seraya memelukku.
UNSIQ again.
Semilir angin sepoi-sepoi menyapu
wajahku
Asa keputusasaanku kutumpahkan
beradu
Di kota ini
Lembaran-lembaran turut menantiku
Menumpuk bak gunung yang menjulang
ke langit
Tiba-tiba....
“Alif, aku turut berduka cita atas
kepergian bapakmu, maaf kemaren nggak bisa takziyah”
“iya lif, yang sabar ya...”
“Sehat lif?. Udah nggak usah di
pikirin, yang penting di do’ain”
Alif hanya bisa menimpaku dengan
senyuman. Ia tak kuasa berkata apa-apa.
“Alif....,MasyaAllah...”
Bersambung........