My Videos

Rabu, 23 September 2015

ENAK TAK PERLU WAH 

Tak hayal memang jika kita galau karena jauh dari peradaban orang tua. Apalagi di hari yang sungguh luar biasa ini. Adalah Idul Qurban, hari raya umat islam selain idul fitri. Hari yang penuh takbir dan keagungan hanya ada pada-Nya. Kembali lagi ke pembahasan inti. “Enak Tak Perlu Wah?”. Iya, pasalnya enak itu selalu terbayang-bayang hal-hal yang menyenangkan, istimewa, menarik, dan serba spesial baik dinilai dari indera pendengaran maupun penglihatan. 
Lalu, kalau yang ini gimana guys? Apa masih dibilang enak? 
Jawabanyya enak sekali, karena ada hal penting dibanding menikmati menu yang tak lain tak bukan semangkuk nasi dan satu keping sambel terasi. Bukankah enak itu ketika merasa sudah puas? Atau bersyukur dalam keadaan apapun?. Awalnya memang kami sempat mengeluh. Di hari raya idul adha kami pun tak bisa berkumpul dengan keluarga, keduanya uang kami habis, dan mau nggak mau kami pun sarapan ala kadarnya.  Mengingat khutbah yang disampaikan tadi pagi, tepatnya di Masjid Nuruz Zahro, Salatiga, “pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam itu sendiri adalah Keteguhan hatinya, kesabaran, dan rela berkorban demi perintah allah SWT”. Nah, mengingat hal itu, kami pun urungkan niat untuk “gresah” (mengeluh). Lantas tersenyum dan.... puji syukur Bagi-mu  
“Karena semua nimat itu berasal dari Allah Ta’ala, tentunya enak sekali”
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)



0

Selasa, 30 Juni 2015

Apa Iya, Kita Sudah Puasa?

Sabtu, 27 Juni 2015. Setelah mengikuti agenda kampus dari  gabungan UKM ITTAQO dan KSEI kemarin, “Sosialisasi Zakat dan Buka Bersama Anak Yatim”.  Inilah sedikit ringkasan dari pemateri acara tersebut,Dr H. Irfan Helmy M.A (di warnai dengan pengalaman-pengalam sendiri) J
Puasa? Apa sih makna dari puasa itu sendiri?
Puasa dalam bahasa jawa maupun arab yaitu “Shiyam”. Shiyam atau صيام  terdiri dari empat huruf yaitu ص, ي, أ, dan م. Dalam setiap satu huruf mempunyai makna masing-masing. Shood (ص) memiliki arti yaitu  “shobar”, itu artinya orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa maka harus menggunakan senjata sabar. Orang puasa yang tanpa bersenjatakan sabar maka dia tidak akan bisa melaksanakan puasanya dengan baik. Bagaimana tidak? Jika kita sedang puasa kalau tidak sabar, kita akan sering marah-marah, sering mengumpat, mencela orang lain, mengumbar nafsu, ceplas ceplos dan sebagainya.
Misalkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tak lepas dari yang namanya masalah dan cobaan. Ketika kita sedang berpuasa dan di uji oleh Allah, jika kita tidak sabar maka dengan mudahnya kita akan  marah-marah,mengumpat dan tak terkendali. Oleh karena itu di bulan puasa ini, kita dilatih untuk meningkatkan kesabaran. Buah hasil dari sabar adalah kedahsyatan dan kekuatan yang kita miliki untuk melindungi diri kita dari perbuatan-perbuatan yang tercela.
Kemudian ada juga istilah “assiyamu junnatun” yang artinya puasa itu seperti perisai atau tameng yang digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan  musuhnya. Orang yang berpuasa kalau belum bisa menjauhkan dari hal-hal yang buruk, itu puasanya tidak berguna bagi Allah SWT. Pasalnya, orang yang berpuasa tidak mencari lapar dan haus, akan tetapi itu merupakan media  untuk mencari nilai-nilai puasa.
Huruf yang kedua yaitu ي, memiliki arti “yaqin”.  Yakin disini bermaksud bahwasanya kita yang sudah melaksanakan ibadah di bulah puasa dan menjalankan kewajibannya (puasa itu sendiri) yang semata-mata karena Allah ta’ala, maka akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Menginjak huruf yang ketiga, yaitu أ (alif) yang berarti “amanah”. Kita sebagai umat islam mempunyai amanat dari Allah SWT. Salah satunya adalah puasa, rukun islam keempat. Oleh demikian, kita wajib melaksanakan yang namanya puasa, disini kita artikan “puasa Ramadhan”.
Terakhir, huruf م (mim) yang artinya “muktsun/diam”. Jadi tak salah jika orang puasa banyak diam. Ini bukan berarti diam tidak berbicara sama sekali, bukan pula karena sakit gigi, tetapi diam memiliki arti untuk tidak membicarakan hal-hal yang jelek, tidak membicarakan celah orang lain, tidak ngerumpi, dan terhindar dari perkataan-perkataan madzmumah lainnya.
Jadi, apakah iya kita sudah puasa hari ini? Jika kita mengaku sudah melaksanakan puasa, jadi kita tak boleh marah-marah,tak boleh menggunjing, tak boleh melakukan atau berbicara hal-hal yang jelek, dan sangat dianjurkan untuk memenuhi keempat poin tadi, supaya puasa kita benar-benar mempunyai nilai di mata Allah SWT.




Terimakasih teruntuk Ustadz Irfan Helmy yang sudah memberi wejangan buat kita semua, semoga bermanfaat fid dunya wal akhiroh. Amin. Selamat menjalankan ibadah puasa J
0

Kamis, 18 Juni 2015


Ramadhan vs My Birth Day


Datang sudah hari ini
Hari dimana yang dinanti-nanti
Oleh jama’ah umat islami
Wanginya pun mengharumi sang bumi
Kala itulah kemurahan sang Ilahi
berlimpah
Menyatu pada segala inti kehidupan
Adalah Ramadhan

Datang sudah hari ini
Hari dimana dulu aku dilahirkan 
Hari dimana aku melihat dunia
Oleh saksi kedua insan yang bahagia 

Datang sudah hari ini
Hari dimana aku mengenang kembali
Duri-duri tajam  yang memperkokoh hidupku
Sayatan jarum panjang ikut serta bergabung bersamaku
Nan manisnya madu cerita hidup yang membuatku tersenyum lepas

Datang sudah hari ini
Hari yang penuh keberkahan
Rezeki, umur, kesehatan,serta segalanya
Dari-Mu sang Ilahi
Memutar kembali masa itu
Menjelang kelahiranku

Hari ini genap sudah umurku 20 tahun
Thank’s to Allah, who has giving me opportunity, healthy, blessing, and so very important. It’s  a longvity to me. Today is so special day. 
Puji syukur  kuucapkan pada-Mu ya Allah. Atas limpahan  keberkahan tepat di 20 tahunku, kudapat  menghirup nafas segar sampai saat ini. Sekaligus bertepatan dengan hari yang mulia, Ramadhan Mubarok.Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak kusangka, dan ini merupakan rencana indah-Mu atas lahirnya diriku di dunia. Menyambut Ramadhan nan kelahiran 
Tiada ribuan kata selain do’aku pada-Mu. Meminta untuk selalu menjagaku dari segala mara bahaya, melindungi keluargaku, melancarkan semua urusanku, serta masih banyak doa-doaku yang tertata rapi kala ku bersimpuh sujud pada-Mu. 
Tak lupa buat ummi yang sudah melahirkanku dengan penuh perjuangan yang sangat keras. Serta abi yang selalu menafkahiku hingga sekarang. Sayangilah mereka seperti menyayangiku ya Robb. Masukkanlah kami ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya ridho orang tua adalah ridho-Mu. Maka ridhoilah aku untuk membahagiakannya. Dengan umur panjang yang selama ini Kau beri, izinkanlah tangan ini meraihnya. 

#walaupun simple, tapi sms ini begitu berharga bagiku. miss you umi and abi


Teruntuk juga sahabat-sahabatku yang telah meluangkan waktunya untuk mengucap sepatah pata, berbagi sekecap rasa bersamaku dengan untain kata, sebongkah do’a yang tulus, serta berbagai kejutan yang begitu mengharukan. Thank’s my best friends .

#Thank's kaka Nina,Kaka Uswa,Kaka Izza and my big family "International Class '13


Karena kutahu, aku disini tidak sendiri. Betapa bahagia ketika bertemu dengan kalian yang mau menerimaku apa adanya sebagai teman. Semoga kita senantiasa mendapatkan yang terbaik dari-Nya. 

#Sertifikat kelahiran bro, baru kali lihat kado yang paling unik.hehe siapa lagi kalo bukan kakakku yang benama Izzah khoiri :D


Untuk mengakhiri tulisanku, marilah kita renungkan bersama, mengenai umur manusia siapa yang tau kalo bukan Dia yang Maha Kuasa. Oleh demikian, lakukanlah yang terbaik buat dirimu, keluargamu, terutama ibumu, saudara-saudaramu, gurumu, serta seluruh umat islam sedunia. Semoga kita di beri umur yang panjang, dan tentunya berkah fi dunya wal akhiroh. 
Amin........



0

Selasa, 16 Juni 2015

AIR MATA SENJA
Menjelang sore hari selalu kulihat angkasa yang tersungging manis ke seluruh penjuru dunia. Tak ingin ku lewati panorama langit biru itu. Menyejukkan qolbu kala hati gundah. Hati yang jauh dari  kasih family.
Wonosobo City. Merupakan salah satu kota yang asri nan sejuk menentramkan para penduduknya.
Sebelumnya tak pernah terpikir olehku, kalau saya akan menginjakkan kaki di kota ini. Memang, dahulu kala waktu saya kecil bermimpi hidup di suatu kota. Karena saya sendiri berasal dari desa yang dikatakan pelosok. Ini bukan alasan untuk tidak mensyukuri atas kelahiranku sebagai anak desa. Tak sama sekali.  Melainkan sekedar keinginan untuk mencicipi manisnya hidup di kota.
Seiring berjalannya waktu, mimpi itu menjadi realita. Wonosobo City, kotaku sekarang. Inilah secuil  kisahku.
Saya, sebut saja Alifia Wahida Ziora. Mempunyai dua sahabat yang selalu setia menemaniku di kala keluh kesah dan bahagia. Saat itu kami duduk di bangku kelas 3 SMA. Sari dan Sifa, namanya. Mereka selalu menolongku ketika aku sedang  keadaan susah. Bahkan tak dimintai bantuan pun mereka selalu stand by setiap saat untuk menolongku. Tak bisa ku uraikan satu persatu kebaikannya. Ah, bahagianya memiliki sahabat seperti mereka.
“Alif, kamu setelah lulus dari SMA ini mau lanjut kemana?” tanya Sifa yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
“Emm....aku....” (sembari tersenyum memandangi wajah sahabatnya).
“ Eh, ni orang kumat gilanya deh” 
“ Hei, Sifa...kamu mau kemana?”
Melihat Alif yang hanya senyum-senyum tak jelas, ia langsung pergi tanpa pamit.
Alif tahu apa yang harus ia lakukan ketika sahabatnya yang satu ini lagi badmood, ia harus mengejarnya sampai pada akhirnya bisa tertawa bareng-bareng lagi.

@Taman Kelas
“Sari...masag tadi pas aku tanya sama Alif tentang planning kedepannya nggak di jawab. Nyebelin tau nggak” curhatnya ke Sari sambil memanyunkan bibirnya.
“ Kamunya aja yang terlalu sensi. Dia itu pengen ngajak kamu bercanda, biar nggak sepanteng  terus”
            Mereka bertiga memang sahabat, tapi tiap hari selalu saja tak bisa melewatkan hari-harinya tanpa cek-cok. Dari masalah yang kecil seperti tadi sampai ke ujung pertikaian yang hanya bertahan 1 jam saja. Unik sekali.
“Kok kalian disini?” tanya Alif dengan nafas yang terengah-engah setelah berlarian mengejar Sifa.
“ Sini Alif duduk sampingku, aku mau tanya sesuatu sama kamu” pinta Sari dengan sifat kelembutannya.
Tak kaget jika Sari berperilaku manis kepada sahabat-sahabatnya. Ia memang tipe orang yang bijak,manis ketika bertutur, tak banyak omong, tapi penyayang. Beda dengan Sifa yang penuh kekanak-kanakan dan pengen menang sendiri. Lalu Alif? Ia humoris, penyabar, kocak, ceria, suka bercanda, dan penuh kerja keras. Walaupun ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda, itu tak memisahkan mereka untuk menjadi sahabat yang setia. Dalam dunia remaja sekarang dikenal dengan sebutan “Best Friends Forever”.
“Jadi kalian satu universitas? Terus aku?” timpal Alif seketika mendengar penuturan mereka berdua.
.......#.......
Dua bulan kemudian
UIN Maliki Malang. Kini nama itu merupakan tempat belajar Sifa dan Sari. Satu universitas bahkan satu kamar di pondoknya.
“Sif, tiba-tiba aku kok kangen sama Alif ya”, ucap Sari dengan mata berkaca-kaca.
Terakhir kali bertemu, mereka bertiga memutuskan untuk pisah. Duo S, yaitu Sari dan Sifa masih tetap bersama. Sedang, Alif punya pilihan lain, ia lebih memilih yang lebih dekat. Selain orangtuanya tak mengizinkan, juga tak mampu untuk membiayai anak pertamanya.
“Ah, dia aja nggak pernah ngubungin kita kok, udah lah lupakan aja, nggak penting tauk”.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu Sif, kita ini sahabat. Ingat nggak, dimanapun, kapanpun kita berada, kita harus saling tetap pegang komitmen kita untuk saling percaya dan tak boleh ada saling benci”.
Sari  menasehati sahabatnya, namun hanya angin berlalu. Sepertinya ia (Sifa) sudah mulai dingin dan tak peduli lagi dengan Alif. Karena  jarak yang lumayan jauh memisahkan keduanya, mereka jarang komunikasi dan hubungan mereka jadi rentan.

@Wonosobo City
“Alif, kamu dipanggil Ustadz Dzikri untuk segera ke ruangannya”, panggil salah satu temannya yang bernama Ridho.
“Iya Dho, thank’s”.
            Tak seperti biasanya, ia merasa deg-deg an. Bahkan tubuhnya gemetaran.
“Kenapa firasatku nggak enak ya” ucap Alif dalam hati.
Grek, pintu ruangan Ustadz Dzikri terbuka.
“Assalamu’aikum ustadz....”
“Wa’alaikumsalam, silahkan duduk nak”
            Benar-benar menakjubkan akan kuasa-Mu ya robb. Kala itu aku tak bisa berkata apa-apa. Dibalik gemetaranku yang begitu dahsyat tadi Engkau menganugerahiku sebuah kejutan berupa beasiswa ini.
Ya, Alif mendapatkan beasiswa, tepatnya beasiswa mahasiswi teladan. Terbukti, ia memang cerdas, selain itu selalu tunduk pada aturan ,banyak memenangkan lomba di mana-mana, terutama bisa menggaet banyak medali di kampusnya. Wajar kalau dia menjadi kebanggan kampus (red_UNSIQ Wonosobo)
.......#.......
Hari demi hari ia lalui dengan kesibukan yang luar biasa. Mulai dari pergi ke kampus, ikut berbagai UKM, kompetisi, MTQ, dan memenuhi undangan-undangan untuk qiro’ah. Sehingga tiga minggu ini ia lupa kasih kabar pada orangtuanya. Apalagi sahabatnya, sudah genap enam bulan ia tak komunikasi dengan mereka. Ada rasa yang ganjal ketika ia sedang makan di Ma’had.
Tiba-tiba hpnya bergetar agak lama. Pertanda ada new call masuk.
“ nak, bapak ....ba..pak..” suara seberang.
“Bapak kenapa bu?” sahutku dengan rasa penasaran nan khawatir.
“Bapak kecelakaan, beliau mengeluarkan banyak darah” sahut ibu dengan agak ragu.
Prang...gelas yang kupegang jatuh dan pecah. Aku pun jatuh pingsan.
.......#.......
Di kediaman Bapak Suhari, rumah Alif.
Lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an terdengar begitu riuh dari kejauhan. Alif tak bisa menahan lagi untuk menangis kesekian kalinya. Air matanya tak bisa bisa terbendung. Sesampai di depan pintu glekk....ia pingsan.
“Alif....”sontak orang-orang yang ada disana kaget dan segera membopongnya masuk ke dalam kamar.
Yaasin..walqur’anil hakiim..
Mendengar lantunan ayat-ayat suci al-qur’an Alif terbangun dari pingsannya.
“Bapak...jangan tinggalin Alif...”
“Nduk, kamu nggak papa?”
“Bapak mana bu?”
“Ikhlaskan saja nduk, biar beliau tenang di alam sana”
Keduanya saling berpelukan erat, Alif pun terisak di pelukan ibunya.
Kemudian pemakaman dimulai. Tinggal keheningan dan isak tangis.
Tujuh hari kemudian.
Hari demi hari Alif hanya berdiam diri di kamar. Makan tak selera, mau kembali ke kampus pun masih teringat wajah ayahnya. Ia terpuruk. Tak menyangka bahwa bapaknya begitu cepat meninggalkannya. Sosok tulang punggung keluarga yang selama ini menjadi tumpuan bagi keluarga. Sosok laki-laki yang kukagumi selama ini. Begitu bijak, baik, tak pilih kasih, selalu melindungi kami, membimbing ke jalan-Mu, dan tak lupa mengingatkan jika kami salah.
“Bapak, Alif kangen....”
“Mbak, sebaiknya mbak kembali lagi ke Wonosobo”
“iya nduk, adikmu benar. Sebaiknya kamu lanjutkan sekolahmu, kasian bapak jika melihatmu terpuruk seperti ini” nasihat ibu seraya memelukku.
UNSIQ again.
Semilir angin sepoi-sepoi menyapu wajahku
Asa keputusasaanku kutumpahkan beradu
Di kota ini
Lembaran-lembaran turut menantiku
Menumpuk bak gunung yang menjulang ke langit
            Tiba-tiba....
“Alif, aku turut berduka cita atas kepergian bapakmu, maaf kemaren nggak bisa takziyah”
“iya lif, yang sabar ya...”
“Sehat lif?. Udah nggak usah di pikirin, yang penting di do’ain”
Alif hanya bisa menimpaku dengan senyuman. Ia tak kuasa berkata apa-apa.

“Alif....,MasyaAllah...”
Bersambung........



         


          
0

Senin, 08 Juni 2015

The Beautiful Gift

0

Senin, 01 Juni 2015

Seruang Rindu Bersama Gunung Merbabu


March  15th, 2015

Di kalangan para remaja mendaki menjadi salah satu tujuan favorite untuk berlibur diri. Apalagi gunung yang satu ini, Merbabu Mountain. Memiliki ketinggian 3142 mdpl. Bagi Kami cukup tinggi, karena Kami termasuk pemula.

Tepat hari jum’at, 15 Mei 2015 saya (sebut saja Azizah), bersama teman-teman Ikamaru yaitu Bebeh Ilmo, Mbak Fat, ditambah satu lagi seorang mbah-mbah yang selalu mengawal perjalanan Kami. Iya, memang itu nama aslinya, lebih familiarnya dengan sebutan “Mbah Hend”. Bukan karena usianya yang tua, melainkan dialah seorang remaja yang seangkatan dengan kami dan kebetulan bertanggung jawab. :D
Jarum jam  menunjukkan pukul 16.30 WIB, Kami bertiga bergegas menuju tempat pertemuan “Ngablak City”. Disitulah Kami berkumpul. Alkisah menceritakan sebuah cerita yang jauh dari apa yang didaki. Cerita yang mencoba menguak sisi lain dari Merbabu. Sisi alam, humaniora, kesosialan, kekeluargaan, beserta tingkah lakunya yang terekam dalam otak panca indra.
Gelisah mulai bergemuruh di dada, ketika saya sendiri berada di Grabag. Sedang, dua temanku (Mbak Fat & Bebeh Ilmo) di Ngablak. Jauh sekali kami berpisah. Mengetahui hal seperti ini kami hanya ba bi bu ba tak menentu hingga detik jarum jam berhenti tepat di 22.22 pm jemputan baru menghampiriku. Bayangkan saja, seorang gadis sendirian di jejalanan malam yang mulai menyepi, dimana sang hati tak terarah gundah menggema. Nggak lucu kan kalau ada kabar “Seorang Gadis Tersesat Sebelum Mendaki Gunung”. Aku sudah mulai putus asa, menyesali atas perbuatanku sendiri. “Oh Ibu, ridhoi anakmu ini ndaki”. Untungnya, ada seikat keluarga kecil yang menolongku waktu itu. Menjamu, menghiburku bak anak kandungnya sendiri. (@Penjual Nasi Kucingan)

Ini baru awal perjalanan Kami yang tak karuan dengan meliku bejubel permasalahan yang akibat ulahku sendiri. Yaitu berpisah dari mereka. Maafkan daku, teman L

@Ngablak City
Singkat cerita, kami berempat sudah tiba di tempat perjanjian sebelumnya. Dengan perjuangan yang penuh keluh kesah menghabiskan 1 jam lamanya untuk menempuh Grabag- Ngablak. Ada enam orang lagi disana, rombongan dari UIN SUKA. Total 11 orang kami menelusuri jalan, Selo adalah alat menuju puncak. Jalan yang mencekam di kesunyiam malam kami tempuh bersama. Tepat 23.45 pm, kami siap meluncur. Berbagai bebatuan menghadang jalan kami. Jalan ekstrim, tanjakan tajam terus kami perjuangkan dengan seluruh kekuatan yang kami punya.
 Dua jam sudah kami lalui sampai basecamp Merbabu (01.45 am.)


@Basecamp
Dingin mulai menjalar keseluruh tubuh. Kami berhenti sejenak tuk merehatkan badan. Tak kalah juga secangkir teh, sepiring nasi menemani malam kami. Yang ada krik...krik... kesunyian hati. Saling diam, saksi bisu mengbungkam mulut masing-masing. Bingung. Terbesit dalam benakku “Ya Robb, untuk malam ini tolonglah satukan kami, kembalikan Kami dengan keharmonisan dalam ranah kekeluargaan “,pintaku dalam hati.
Allah mendengar do’aku. Dengan kemantapan hati, keoptimisan diri, Kami mulai melanjutkan perjalanan menuju puncak Merbabu. Tentunya setelah memenuhi administrasi sebesar Rp 10.000,00, Kami membentuk satu lingkaran kecil. Berdo’a dimulai. Bismillahirrohmanirrohim.....
Start (03.00 am) “Merbabu....tunggu kami di atas puncak sana”.

*Shubuh,04.10 am, kami sampai di pos I
Kami beristirahat sebentar, beralas matras sebagai kasur tidur Kami. Kak Kholil, salah satu rombongan dari Jogja menyambut pagi Kami dengan secangkir kopi. Menghangatkan tubuh. Masih saja kopi yang sepanas itu tak terasa. Dingin telah masuk ketulang, aliran darah pun rasanya telah bercampur menyatu.
Terus melaju menelusuri jalan. Rasa kekeluargaan itu mulai muncul satu persatu. Kak Kholil yang selalu kocak menghibur kami, kesastraan Kak Fahri yang tak kalah meramaikan suasana, kemanisan gula jawa yang dibawakan oleh Kak Siti nan Kak Rika tuk mengisi perut yang kosong, air putih yang mengobati dahaga Kami, dibawakan oleh teman tercinta (@Mbak Fat), tak lupa ditemani oleh permen “MintZ” di kantong Bebeh Ilmo, Mbah Hend, Kak Bakpau, ,Kak Ilyas,  tak lupa Kak Rofikki yang mengawal selalu selama our trip. Ciri kekhasan itu bikin hati ini mulai memutar kenangan yang telah terukir dua minggu yang lalu.

Ini pose kakak-kakak saat masak.

(kebalik nggak nih, masag cowok yang masak? Haha tutup muka ah J )



Mendaki. Ia mengajarkan kami untuk berbagi rasa satu sama lain. Satu mangkuk mie untuk bersama, secangkir kopi pun bersama. Walau hanya beberapa suap mie kami tetap berjuang.



Setelah mengisi perut di pos II, perjalanan berlanjut menuju treck yang sedikit menanjak dan tajam ke pos selanjutnya. Rumput ilalang turut menyemangati. Pepohonan bersorak riang menggelegar. Cepat atau lambat Kami akan sampai ke puncak atas kehendak-Nya. “Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad”. Sholawat Nabi mengiringi permulaan kaki melangkah. Tit...Sinar matahari mulai menyengat tepat di atas kepala. 09.20 am di mulai dari tempat peristirahatan tadi. Terus melangkah pasti. Meliuk-liuk mengikuti lenggok jalan perbukitan. Menikmati panorama sejuk keindahan alam. Dua gunung yang melegenda di Jawa Tengah. Berdampingan tetapi tetap menonjolkan ciri khas masing-masing. Merbabu dan Merapi. Merbabu dengan padang sabana, hijau rerumputan, ilalang, hutan, tak lupa dengan ladang edelweisnya yang dicari-cari para remaja entah apa istimewanya saya sendiri kurang tau. Heee.  
Lalu, Merapi ??? Berhubung saya sendiri belum pernah kesana, so...ane tak bisa menorehkan rupanya. J
Ini nih kaki-kaki para pendaki. Chiss....kaki aja bisa narsis, apalagi orangnya.hahaha.... :D




 @Sabana I (11.20 am)
Matahari mulai tersenyum tepat di atas kepala. Sudah terlalu siang rupanya. Sabana I.
“Subhanallah...indah sekali, ini baru ngerasa muncak beneran”. Salah satu temanku mengucap ketakjubannya,Bebeh Ilmo temanku yang paling cerewet dan suka jadi laki-laki jadi-jadian. Hahaha. Peace mb bro :D

@Suasana Sabana I



Deretan tenda berawarna-warni, menghias hari dibawah terik sang mentari.
“kakak-kakak, kita istirahat saja dulu dibawah pohon andelwis, ndiriin tendanya nanti sore saja”, arahan kak leadership yang bijak
Sembari duduk di bawah pohon andelwis, untuk mengusir keletihan, tak lupa kami mendokumentasikan alias berfoto ria. “Lumayan, buat kenangan anak cucu”hhhe


Kakak, senyum dikit donk....nah,gitu baru cantik J



Keasyikan kami membuat lupa akan waktu. Nan mentari semakin menampakkan dirinya. Panas menyangat ujung kepala tepat. Grrhhhh.....geser kanan geser kiri, sama saja. Panas. Kucoba memejamkan mata. Perlahan bleshhh. Tidur.

 Pukul 14.50.
Setelah mendirikan tenda, Kami berencana melanjutkan perjalanan menuju puncak. Namun, cukup sudah rasanya. Sore itu berkabut. Putih, bahkan tak nampak jalan setapak nan gunung yang menjulang tinggi. Alhasil, pendakian kami tunda hingga esok harinya.

Pukul 03.30
Udara semakin dingin. Bahkan kami semua sempat menggigil. Mau tak mau pendakian harus dilanjut sepagi ini juga. Dengan bekal niat yang bulat, keoptimisan, tak lupa kami berdo’a terlebih dahulu kepada Allah yang Maha Kuasa.
Perjalanan kali ini beda dengan sebelumnya. Untuk kali ini, akan lebih terjal, curam, berkelok, licin, tinggi, dan membutuhkan fisik yang kuat tentunya.
Langkah kami mulai melemah dengan nafas yang semakin berat tetap terasa bersemangat karena kebersamaan saling mendukung, bercanda, dan tawa.
Sempat mengharukan, ketika semua perhatian tertuju pada Mbak Fat dan saya sendiri yang tiba-tiba sakit. Teman saya menggigil, lagi-lagi disusul olehku yang kedinginan dan batuk-batuk efek berhenti cukup lama. Ku coba tak menghiraukan lagi dengan rasa mual dan batukku saat itu.
“Strong...strong..strong, you can do it”. Ucapku waktu itu, untuk memotivasi diri sendiri.

Ribuan kaki telah kami injakkan di tanah merbabu. Tak terasa sekitar 4 jam kami sampai puncak Merbabu.
“Alangkah indah ciptaan-Mu ya Robb”. Menakjubkan. Rumah, gedung, masjid, kota-kota, nampak kecil dari atas sana. Itu tandanya, semua isi bumi ini tak ada apa-apanya dibanding kekuasaan-Mu.  
  


Indahnya alam karena adanya Engkau, Sang Maha Segalanya.





Menurut saya pribadi, muncak adalah tak sekedar ndaki, lalu foto-foto di atas awan. Bukan. Tapi, alangkah indahnya jika kita berniat untuk bertadabbur, menadabburi ciptaan-Nya. Tak lain tak bukan adalah mencintai alam. Perlu di ingat, bahwa “cinta alam dan kasih sayang sesama manusia” adalah bentuk pasal  Dasa Dharma yang mana kita semua harus mengamalkannya. Yang terpenting niat, optimis, jangan lupa do’a, dan kebersamaan untuk saling menjaga.


Itulah cerita singkat tentang kami. “Seruang Rindu Bersama Gunung Merbabu”. Yang mana, ini mempunyai arti,kami semua telah mengagumi ciptaan-Mu, merindukan alam-Mu. Thank’s to Allah J

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah; milik-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya pula segala puji; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. At-Taghobun: 1)


Sekian. Semoga kita semua selalu diberkahi dalam lindungan-Nya. Amin J

(@Azizah_D’uzie Sang Bintang Azizy)








5

Jumat, 22 Mei 2015

Segudang Mimpi, Sejuta Teori
Ketika hati mulai gundah gulana. Arah tak menentu kemana lagi kaki akan berpijar. Mata sayu, emosi meninggi, ketika itu pula alam memergokiku  dari segala penjuru . lantas, apa kau hanya termenung sambil duduk merintih dan merenungi nasib?
Banyak bintang-bintang yang ingin kau gapai. Banyak impian yang tercecer diserang oleh kemalasan. Tak pernah kau tata rapih,sedikut pun kau mengabaikan mimpimu maka putuslah harapan.
Satu persatu temanku kupandangi, teman-teman seperjuanganku tentunya.  Sebagian dari mereka telah menemukan jati dirinya. Seni, qiro’ah, penulis, photographer, wartawan, penceramah, dan lain sebagainya adalah bidang dari teman-temanku.
Terkadang aku iri dengan apa yang mereka miliki. Seakan-akan diri ini tak pernah bersyukur dengan pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa.
Memang, mimpi bisa melecut semangat seseorang untuk menjadi seperti apa yang diimpikannya. Hingga tak heran jika banyak teman-temanku yang sudah terketuk hatinya untuk  meraihnya tersebut.Tapi jangan salah, meski banyak yang berkorbar semangatnya  bak api yang membara,  tak jarang kita sering menemui orang yang tak percaya dengan mimpinya sendiri. Yeah, alasan kenapa saya berbicara seperti ini karena itu realita, yaitu ada pada diriku sendiri. Merasa was-was, sering plin-plan, mudah mengeluh dan tak PD alias percaya diri.
Nah, karena itu aku mencoba menelusuri sebab akibat sehingga daku seperti ini. Kujelajahi jalan berbagai jalan.  Why? Ternyata diri ini terlalu memikirkan apa yang akan kuhasilkan nanti. Bukan memikirkan cara untuk meraih hasil yang baik, tapi justru memikirkan hasil dan melupakan bagaimana caranya.
Dengan begitu, sobat-sobat yang mungkin mengalami seperti saya ini. Maka, saya punya tips guna memberantas sang penyakit “malas”.
o   Ingat !!! Bahwa malas akan menyebabkan kita lupa. Lupa akan aktivitas yang sudah kita planning. So, hilanglah waktu kita  sia-sia begitu saja.
o   Jangan biarkan malas menelan hidupmu. Karena waktu terus berputar,berputar, dan selalu sama. Dari mulai fajar,pagi,siang,sore,petang,dan malam. Begitu setusnya setiap hari.
o   Berkumpulah dengan orang-orang yang rajin. Dengan begitu Anda  akan mulai tersentuh agar melakukan seperti mereka.
o   Hindari duduk atau tiduran di sofa/kasur sebelum waktu untuk istirahat.
o   Perbanyaklah berolahraga. Dengan berolahraga, tubuh Anda akan sehat dan tak mudah terserang penyakit. Lalu makanlah makanan yang sehat, halal, serta bergizi, supaya tubuh tetap fit dan bisa menjalankan aktivitas secara teratur dan kondusif.
o   Kurangi porsi makan, karena makan yang terlalu banyak bisa menyebabkan kantuk dan ujung-ujungnya akan malas.
o   Ingat umur, waktu, dan mimpi Anda !!!

Tidak ingatkah kalian tentang firman Allah dalam kitab-Nya yang tertulis dalam surat Al-insyiroh,berbunyi “inna ma’al ‘usri yusro”, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Allah Maha Kaya akan kuasa-Nya, sesulit apapun masalah Anda pasti ada jalannya.
Semua solusi ada di tangan Anda. Jika Anda mau bergerak, mau berikhtiar, meminta pertolongan pada Allah, maka jika Dia (Allah) “kun fayakun”, maka jadilah. Segudang mimpi, so sejuta teori pun akan ikut bereaksi atas kesuksesan yang kau raih.

Selamat mencoba jadi diri Anda sendiri, keep fighting, smile, don’t forget pray to Allah, don’t be lazy, and good luck !!! J




0
Diberdayakan oleh Blogger.

The Beautiful Gift

Cari Blog Ini

Contact us