Kucing Malang
Alkisah, disebuah taman kota terdapat gerombolan kucing yang sedang
kebingungan. Mereka baru saja diusir dari rumah gegara sering melakukan
kesalahan yaitu mencuri ikan-ikan tuan rumahnya secara sembunyi-sembunyi. Kucing-kucing
itu berjumlah tujuh ekor, tiga ekor diantaranya dari keluarga Burbur, tiga ekor
lainnya dari keluarga Cancan, dan sisanya hanya seekor kucing yang tak
diketahui asal mulanya sama sekali, Meymey namanya. Sebenarnya, hanya enam ekor
saja yang berbuat kesalahan tersebut, akan tetapi karena si Meymey terkena
impasnya, ia dikarungi juga lalu dibuang bersama kucing-kucing lainnya.
Di sudut Kota,
mereka mencari tempat yang layak untuk dijadikan rumah dan tempat berlindung
dari teriknya matahari dan dinginnya air hujan. Lalu, tiba-tiba si Cocan (salah
satu personil dari keluarga Burbur) berkata, “Eh Meymey kamu tidak boleh ikut
kami, kamu kan punya keluarga sendiri”, katanya penuh dengan kesinisan.
“Maaf kawan-kawanku bolehkah aku menumpang tiga hari saja?”, bujuk
Meymey dengan nada memohon.
Kelompok kucing Burbur dan Cancan saling melempar pandangan.
Diantara mereka tak ada yang mau menerima kehadiran Meymey.
“Kita jadikan pembantu aja di rumah kita yang baru, untung kan
kalau ada pembantu gratis”, bisik si Cocan dengan bapaknya, Burbur.
Lalu mereka saling berbisik dan menerima si Meymey dengan syarat
dan ketentuan jadi pembantu. Si Meymey pasrah dan menerima syarat-syarat
tersebut, ia sudah tak punya pilihan lain. Dari lubuk hatinya yang paling dalam
ia ingin mencari dan kembali di Kota sebelah, bersama keluarganya. Namun, hal
demikian sangatlah tak mungkin karena ia tumbuh dan dibesarkan oleh pamannya,
Kanim – kucing dari Turki.
Pada suatu pagi
yang cerah, Meymey mulai melakukan aktivitasnya dengan senang hati yaitu
sebagai pembantu di rumah baru mereka – sudut Kota, pinggir tepi pantai.
Sedang, mereka dengan asyiknya bermain lalu makan pagi ketika makanan sudah
dihidangkan oleh Meymey. Ia hanya menelan ludah, semua makanan pagi dihabiskan
oleh dua pihak keluarga tersebut tanpa menyisakan sedikit pun untuknya. Ia
menangis lalu pergi keluar untuk mencari sesuap makanan untuk mengganjal
perutnya.
Penderitaan demi
penderitaan yang tiap hari hari bahkan berbulan-bulan ia lalui dengan ikhlas
dan sabar. Akhirnya Meymey memutuskan untuk pergi dan mencari keluarganya di
Kota sebelah. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan dan berminggu-minggu ia
tak menemukan keluarganya. Lalu, dengan tangan kosong ia kembali seperti tempat
semula dan hidup sendirian.
“Meymey ingin bahagia, harus sabar dan usaha. Semoga esok
kebahagiaan menghampiriku”, katanya sembari menitikkan air mata.
