My Videos

Selasa, 11 September 2018

FABEL "Kucing Malang"



Kucing  Malang

Alkisah, disebuah taman kota terdapat gerombolan kucing yang sedang kebingungan. Mereka baru saja diusir dari rumah gegara sering melakukan kesalahan yaitu mencuri ikan-ikan tuan rumahnya secara sembunyi-sembunyi. Kucing-kucing itu berjumlah tujuh ekor, tiga ekor diantaranya dari keluarga Burbur, tiga ekor lainnya dari keluarga Cancan, dan sisanya hanya seekor kucing yang tak diketahui asal mulanya sama sekali, Meymey namanya. Sebenarnya, hanya enam ekor saja yang berbuat kesalahan tersebut, akan tetapi karena si Meymey terkena impasnya, ia dikarungi juga lalu dibuang bersama kucing-kucing lainnya.
     Di sudut Kota, mereka mencari tempat yang layak untuk dijadikan rumah dan tempat berlindung dari teriknya matahari dan dinginnya air hujan. Lalu, tiba-tiba si Cocan (salah satu personil dari keluarga Burbur) berkata, “Eh Meymey kamu tidak boleh ikut kami, kamu kan punya keluarga sendiri”, katanya penuh dengan kesinisan.
“Maaf kawan-kawanku bolehkah aku menumpang tiga hari saja?”, bujuk Meymey dengan nada memohon.
Kelompok kucing Burbur dan Cancan saling melempar pandangan. Diantara mereka tak ada yang mau menerima kehadiran Meymey.
“Kita jadikan pembantu aja di rumah kita yang baru, untung kan kalau ada pembantu gratis”, bisik si Cocan dengan bapaknya, Burbur.
Lalu mereka saling berbisik dan menerima si Meymey dengan syarat dan ketentuan jadi pembantu. Si Meymey pasrah dan menerima syarat-syarat tersebut, ia sudah tak punya pilihan lain. Dari lubuk hatinya yang paling dalam ia ingin mencari dan kembali di Kota sebelah, bersama keluarganya. Namun, hal demikian sangatlah tak mungkin karena ia tumbuh dan dibesarkan oleh pamannya, Kanim – kucing dari Turki.
     Pada suatu pagi yang cerah, Meymey mulai melakukan aktivitasnya dengan senang hati yaitu sebagai pembantu di rumah baru mereka – sudut Kota, pinggir tepi pantai. Sedang, mereka dengan asyiknya bermain lalu makan pagi ketika makanan sudah dihidangkan oleh Meymey. Ia hanya menelan ludah, semua makanan pagi dihabiskan oleh dua pihak keluarga tersebut tanpa menyisakan sedikit pun untuknya. Ia menangis lalu pergi keluar untuk mencari sesuap makanan untuk mengganjal perutnya.
    Penderitaan demi penderitaan yang tiap hari hari bahkan berbulan-bulan ia lalui dengan ikhlas dan sabar. Akhirnya Meymey memutuskan untuk pergi dan mencari keluarganya di Kota sebelah. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan dan berminggu-minggu ia tak menemukan keluarganya. Lalu, dengan tangan kosong ia kembali seperti tempat semula dan hidup sendirian.
“Meymey ingin bahagia, harus sabar dan usaha. Semoga esok kebahagiaan menghampiriku”, katanya sembari menitikkan air mata.


2

Kamis, 09 Agustus 2018

Nomor Tujuh

Nomor Tujuh

Malam minggu, adalah malam yang sama dengan malam lainnya. Bagiku. Hanya saja banyak definisi yang menafsirkan indah kebanyakan orang. Iya, dimana orang-orang meluangkan waktu ataupun kisah untuk mengarungi *weekend*. 

Malam, nomor urut tujuh yang masih menunggu. Sebuah makanan yang kutunggu, adalah aku sangat lapar. Uang pas-pasan bahkan hampir habis. Oh mama, aku ingin pulang. 

Masih menunggu, nomor tujuh pun tak kunjung datang. Entah sampai antrean berapa sekarang. Aku tak mau tau, kerana yang kutahu aku masih menunggu. Demi asupan energiku yang bahkan sudah mulai lelah.

Menungu, kamu adalah yang kutunggu. Bicara hal menunggu kan?. Hanya saja. Hanya satu hati yang membuatku sering bergeming, berpikir, juga berkebingungan. Kamu. 
“Mbak”…
“Mbaknya sendirian?”, lanjut ibu penjual kwetiau yang memecahkan lamunanku.
“Tidak,Bu. Saya sama teman saya, tapi dia kesana”, jawabku sambil menunjuk arah kedai roti bakar.
“Mbaknya beli berapa?”, tanyanya, lagi.
“Dua, Bu. Satu pedas dan satunya sedang saja”.
“Ok,mbak. Mbaknya nomor tujuh, Ditunggu dengan sabar, ya!”, lanjutnya kedua dengan mengulanginya – nomor tujuh. 
Lalu, ku mengangguk. 

45 menit telah berlalu. 
Dengan rasa mulai bosan ku melihat arah timur, menengok kedai roti bakar sambil melirik-lirik ibunya yang semakin sibuk menyiapkan pesanan pembeli. Ah, lama dan perut ini mulai keroncongan. 
“Ini, mbak”, ucap ibunya 10 menit kemudian yang lagi-lagi membuyarkan lamunanku.  
“Berapa, Bu?”
“Dua puluh empat ribu”
“Ini,Bu”, mengambil pesananku lalu memberikan uang yang sudah kupegang sejak tadi.
“Terimakasih, Bu”, lanjutku sembari menyusul temanku yang ternyata akan menghampiriku, juga. 

Kembali
Kesabaran adalah hal yang tak ada batasnya. Kalaupun ada batasnya itu bukan kesabaran, begitu katanya. 
Sabar dalam hal apapun – termasuk menunggu asupan energi. 
Setelah memakan waktu kurang lebih hampir 60 menit itu kuhabiskan waktuku hanya untuk menunggu. Menunggu sebungkus kwetiau Wonosobo. 

~Menunggu hal sesederhana, meski ia masih terlihat jauh, bersabarlah~
0
Diberdayakan oleh Blogger.

The Beautiful Gift

Cari Blog Ini

Contact us